SMA Negeri 1 Kandangan
Jl. Batuah No. 31 Kandangan   Kab. Hulu Sungai Selatan
Provinsi Kalimantan Selatan

Welcom to SMAN 1 Kandangan's Website
Cari:
Modul
Kelas X
Kelas XI
Kelas XII
LKS
Kelas X
Kelas XI
Kelas XII
Media Pembelajaran
Multimedia
Gambar
Komentar:

IDENSTITAS  SEKOLAH

 

Nama  Sekolah               :        SMA Negeri 1  Kanangan

Alamat  Sekolah             :        Jl.  Batuah  Nomor  31  Kandangan

Kabupaten                      :        Hulu  Sungai  Selatan

Provinsi                          :        Kalimantan  Selatan

Website Sekolah            :        www.smansakdg.or.id

Email  Sekolah               :        smansakdg@yahoo.co.id.

Telpon/Facsimile            :        0517-21098

Terakreditasi                  :        Amat  Baik

Kondisi  Georgafis

SMAN   1  Kandangan  terletak  di  Desa   Tibung  Raya,   Kecamatan  Kandangan,  Kabupaten  Hulu  Sungai  Selatan,   dengan   luas  lahan   13.740  M2.  Posisi  sekolah  terletak  pada  jarak  700 meter dibagian  Utara   Kota  Kabupaten.   Jarak  sekolah   dengan  Ibu  Kota  Propinsi  sejauh  240  km.  Letak  sekolah  didalam  kota  Kabupaten  merupakan  sebuah  potensi  dan  daya  tarik  tertentu  untuk  program  pengembangan  sekolah.  Jauhnya  jarak  dengan   Propinsi,  merupakan  tantangan  untuk  pengembangan  jaringan  komonikasi  yang  efektif.

Sekolah yang  berlokasi ditepi  jalan  raya  ini  dibangun oleh Pemerintah di atas sebidang tanah  dengan status  Hak Milik  bersertifikat  Badan  pertanahan Nasional  Kabupaten  Hulu  Sungai Selatan  Sekolah ini secara resmi mulai dipergunakan pada tanggal  14 Agustus 1958 dengan nama SMA Negeri 1 Kandangan.  Alamat   Sekolah   :    Jalan  Batuah  Nomor  31,  Kandangan    Telpon  0517-21098.

SMA Negeri 1 Kandangan dan  masih  betetangga  dengan  SMP Negeri 4  dan  SMK Negeri 1,  sehingga  merupakan  potensi untuk dapat dikembangkan hubungan kerjasama  dalam  pengembangan  sekolah,  berbagi  pengalaman untuk memajukan pendidikan.

Kurikulum

Kurikulum  yang  digunakan   adalah   Kurikulum  KTSP   yang   dimulai   pelaksanaannya  pada  tahun   pelajaran   2007/2006  yang  lalu.   Waktu   pembelajaran   efektif  adalah   6  hari   dalam  seminggu,   pagi   hari   dari   jam  07.45  sampai  dengan  14.15  Wita,   kecuali   hari  Jum,at   jam  07.45  sampai  dengan  11.15.   Pelayanan  Pembelajaran  dilakukan  oleh  Tenaga  edukatif  yang  pada  umumnya  berkualifikasi   Pendidikan  yang   memenuhi  syarat  dan  bersesuaian.

Dalam Pelayanan  Pembelajaran  siswa  dikelompokan  dalam  beberapa  kelas, yaitu  Kelas  Reguler  dan  Kelas yang memiliki  keunggulan.  Kelas yang memiliki keunggulan  dibedakan  menjadi  Kelas  Akademik dan  Kelas  Standar Plus.

Kelas Reguler  adalah  kelas  yang  diperuntukan  bagi  siswa yang  kemampuannya  rata-rata  biasa,  sedangkan  Kelas  memiliki keunggulan  untuk siswa  yang berkemapuan rata-rata lebih pandai.  Pemisahan kelas tersebut dilakukan   pada   kelas X  dan  XI   (Klasifikasi didasarkan pada penjurusan),  sedangkan  di kelas XII  kedua kelas  tersebut  di acak agar siswa yang pandai bisa  mengimbaskan  kelebihannya   kepada   siswa  dari  kelas  reguler.

               Kelas  Akademik  yaitu Kelompok Siswa  yang  memiliki  Nilai Akademis  atau ranking tertinggi pada Seleksi PSB  (Kelas X) atau  kenaikan Kelas (Kelas XI), sehingga dapat diperlakukan dalam. level   pembelajaran  khusus,  baik dalam  Pendekatan atau  Metode  Pembelajarannya.  Kelas  yang  demikian  dirintis  sejak tahun  pelajaran  2006/2007

               Kelas Standar  Plus  adalah Kelas yang menerapkan program pembelajaran intensif  diluar Kurikulum Standar Reguler,  sehingga ada  Penambahan waktu  pembelajaran diluar jam  Kurikuler  standar.  Kelas  ini  mulai  dibuka  pada  tahun  pelajaran  2007/2008

               Mulai Tahun  2008/2009  di SMA Negeri 1  Kandangan dipercayakan melaksanakan  program  rintisan Sekolah Standar Nasional.

Bentuk  kegiatan   pembelajaran  lainnya   yang  tersedia   adalah   Bimbingan Belajar Intensif  Persiapan  mengikuti  Ujian  Nasional ( Bagi Siswa Kelas  XII ),  Layanan  Bimbingan  Konseling dan  Kegiatan  Pengembangan Diri  dalam betuk  Ekstra  Kurikuler  dalam  berbagai  bidang,  yaitu  bidang   Akademis,  Olah Raga,  Seni,  Informatika,  dan  Kemasyarakatan,  yang  dilaksanakan  diluar  jam  efektif.   Selain  itu   tersedia 

Manajemen

Manajemen sekolah dijalankan  dengan  siklus  :   Perencanaan  ( Planning ),   Pengorganisasian  ( Organizing ),  Pengarahan  ( Actuating ),   dan  Pengawasan/Pembinaan         ( Controlling ).  Perencanaan  disusun  dengan  pola  menghimpun  aspirasi  yang  berasal  dari  bawah ( Bottom Up ),  yaitu   Personel  Sekolah,  Komite,  dan   Stake  Holder,   tentunya  dengan  melihat  berbagai  kebijakan  yang   berasal  dari   atas.   Pengambilan  Keputusan  untuk  diangkat  sebagai   prioritas   dalam   Program  Kerja,   tetap  dilakukan  dengan  prinsip  musyawarah  dan  mufakat.

Dalam  Pengorganisasian  telah  disusun  deskripsi  pembagian  tugas  (Job Descriftion )   sesuai  dengan  Struktur  Organisasi  yang  telah  ditetapkan  dan  fungsi-fungsi  yang  sudah  digariskan.  Pembagian  Tugas   disusun  berdasarkan   prinsip  Pemberdayaan,  keahlian,   dan   Pemerataan.

Kegiatan  Pengarahan  lebih  ditik beratkan  pada   pelaksanaan  tugas  dan  fungsi  secara  optimal   ( tidak  sekedar  pencapaian  SPM )  sesuai  dengan  time  schidule atau  kontrak yang  dibangun  dan  disepakati  bersama,  sebagai  komitmen  sekolah.

Sedangkan   kegiatan   Pengawasan   dilaksanakan  secara  terprogram  berdasarkan  pola   Pengawasan  Melekat   dan  Supervisi Akademis/ Klinis.  Kegiatan  ini  dilakukan  untuk  memperoleh  umpan  balik  ( feed  back )   terhadap   kegiatan   Perencanaan,  pengorganisasian,  dan   Penggerakkan   di atas,   disamping   untuk  Penilaian  Pekerjaan  dan  Penilaian  Kinerja   Guru  ( Pendidik)  dan  Tenaga  Kependidikan.

Kultur  Sekolah

Kultur  Sekolah  menunjukkan  indikasi   bahwa  ikatan   sosial  anggota  masyarakat  sekolah  cukup  kuat,   Konsensus  mudah  dicapai,  namun  Komitmen   Individual   pada  sebagian  personel  sekolah  relatif  masih  rendah.  

Dalam  system  kerja,  interaksi   Guru  dengan  sesama  atau  pegawai   lainnya  menunjukkan  perilaku  koligial  dan  cukup   familiar,  terbuka,  saling  menghargai,  saling  mendukung,  dan  terjalin  kerjasama  yang  baik Dikalangan  siswa  sikap  kerjasama  dan  gotong  royong  juga  cukup  baik  meskipun  perilaku   kurang  bertanggung  jawab  terhadap  tugas-tugas  yang  di emban  kadang  kadang  masih  ditemukan.  Suatu  hal  yang  sangat  menggembirakan  bahwa  semangat  keagamaan  dikalangan  siswa  tampak  jelas   actionnya.   Kondisi   tersebut  disamping   bimbingan  dari  sekolah,  juga  ditopang  oleh  kondisi  masyarakat  yang  relatif  Agamis.

Filosofi  Pengembangan

Sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demikratis serta bertanggung jawab.

Sedangkan tujuan pendidikan menengah untuk memperluas pengetahuan peserta didik yang diperlukan  untuk  melanjutkan  pendidikan  ke Pendidikan  Tinggi. Dengan  melihat  hasil-hasil  pendidikan  di  SMA Negeri  1  Kandangan,  Kabupaten  Hulu  Sungai  Selatan   saat  ini,  maka  sangat  diperlukan  adanya  gerakan  bersama  untuk  meningkatan  mutu  Sekolah,  baik  dalam  input  maupun  prosesnya  dalam  rangka  mewujudkan  kondisi  yang  di inginkan   sebagaimana  tergambar  dalam  Tujuan  Pendidikan  Nasional  di atas.

Agar  upaya peningkatan  mutu  sekolah  dapat  berhasil  baik  dan  memuaskan,  maka  harus  dilakukan  didalam  sekolah  itu  sendiri.  Dengan  kata  lain,  gerakannya  dilakukan  pada  level  sekolah  atau  berpusat  di sekolah,  bukan  dari  luar  sekolah.  Hal  ini  harus  benar-benar  disadari,  tidak  hanya  oleh  para  Personel  sekolah,  tetapi  juga  oleh  para  Pemegang  Kebijakan  Pendidikan  pada  umumnya.  Dalam  kaitan  ini,  sebagai  dynamo  peningkatan  mutu,  maka  sekolah  harus  dikembangkan  menjadi  sebuah  Sistem  yang  utuh.  Oleh  karena  itu, kelengkapan  komponen-komponennya,  baik  yang  berupa  komponen  Sumber  Daya  Manusia,  Sarana  Prasarana,  maupun  Pembiayaannya,  juga  mutlak  diperhatikan   dan  dipenuhi.

Sebagai  sistem,  sekolah  bukan  saja  sistem  mekanik  dimana  jika  ditemukan  bagian-bagian   yang   tidak  berfungsi   dapat  diganti,   melainkan  juga   sebagai  sistem  organik   atau sistem  manusiawi  dimana  hubungan  insani  dipandang  sebagai  kunci  berfungsinya  sistem.  Oleh  karena  itu  didalam  sistem  sekolah,  fungsi  bagian-bagian  tidak  hanya   untuk   bagian   itu  sendiri,  melainkan  akan  berpengaruh  sebagai  hubungan  sinergis  pada  keseluruhan.  Setiap  individu  sebagai  komponen  dari  Sistem Sekolah,  harus  memahami  bagaimana  unjuk  kerjanya  akan  berpengaruh  pada  orang  lain.  Sehingga  setiap  personel  sekolah  apapun  pekerjaan  dan  jabatannya  Kepala Sekolah,  Wakil  Kepala  Sekolah  Wali  Kelas,  Guru,  Pegawai  Tata  Laksana,  pesuruh,  dan  sebagainya  dituntut  harus  menampilkan  kerjasama  yang  baik  untuk  meningkatkan  performance  sekolah.  Kualitas  sekolah  mustahil  akan  dapat  diwujudkan,  tanpa  meningkatkan  kualitas  setiap  komponen  dari  system  sekolah  itu  sendiri.

Sebagai  sistem  Organik,  unsur-unsur  manusiawi  dalam  sekolah  perlu  dikondisikan  bekerja  sebagai  sebuah  Tim,  yakni   Tim Work  yang  memiliki  semangat  kerjasama  yang kuat untuk terus menerus berupaya melakukanpenyempurnaan (meningkatkan kualitas )  sekolah.  

Problem  yang  timbul  harus  dipandang  sebagai  akibat  dari  dinamika sistem,  bukan  karena  kesalahan  perseorangan.  Sistem  yang  demikian  akan  dapat  berkembang  menjadi  Kultur  Sekolah   jika  dilandasi  kerjasama  yang   baik  dan  komitmen  yang  tinggii dari  semua   Personel  Sekolah.

Sebagai  sebuah  sistem  yang  nota  bene  Instansi  Pendidikan  formal,  maka   sekolah  harus  dimenej  dan  diorganisir  sedemikian  rupa,  sehingga  hubungan  insani  menumbuhkan  interaksi  kerja  yang  dinamis   dan  efektif.  Dinamika  interaktif  tersebut,  terutama  ditujukan/ diarahkan  untuk  mencapai  sasaran  dan  target  yang  telah  dipahami   dan  ditetapkan  bersama.

Kebersamaan  dalam  menetapkan  dan  memahami  sasaran  dan  target  yang  ingin  dicapai,  dimaksudkan  agar  seluruh  unsur  manusiawi  dapat  mengetahui  pada  posisi  mana  dia  berada,   mengerti  dalam  rangka  apa  mereka  bekerja,   dan  memahami  bahwa  antara  usaha  yang  dilakukan  dengan  hasil  yang  mungkin  dicapai,  memiliki  korelasi  yang  sangat signifikan.  Dan  yang  tidak  kalah  pentingnya  adalah  bahwa  setiap  kemajuan  yang  dicapai  oleh  sekolah  dapat  dirasakan  sebagai  hasil  investasi  dari  semua  pihak.

Dalam  pola  kerja  yang  demikian,  interaksi  kepemimpinan  yang  dikembangkan  adalah  perilaku  supportive,       berupa   akuntabel,  transparansi,  dan  terbuka  terhadap   saran   atau  kritik  dan  penghargaan  terhadap  kemampuan  profesional  secara  jujur  dan  ikhlas,  lebih  dominan  daripada  tindakan  directive.

Strategi  pengembangan   sekolah  dalam rangka peningkatan mutu sebagaimana tergambar di atas,  pada  dasarnya  dititik beratkan  pada  :  Pertama,   Mengembangkan  Kultur  sekolah  yang  sehat  guna  meningkatkan  perilaku  manajemen  sekolah  dan  pola  kerja  personel  sekolah  yang  efektif.   Kedua,   Meningkatkan  kinerja,   kemampuan  SDM,  dan  kemauan  kerjasama  semua  personel  sekolah  untuk  mengoptimalkan  Proses  Pembelajaran  dan  Pembimbingan  agar  hasil hasilnya  berkualitas  tinggi.   Ketiga, Melengkapi  Prasarana dan sarana  Pembelajaran  agar dapat  memberikan  layanan  yang  memuaskan  kepada  pengguna  jasa  sekolah.

Dalam  rangka  Pengembangan  tersebut,  secara  khusus  Kondisi  yang  diharapkan terwujud  adalah  :

1.   Adanya Dukungan positif dari semua warga sekolah, termasuk masyarakat sekitar sehingga membawa  pengaruh  yang  baik  terhadap  pengembangan  Kultur  Sekolah.

2.   Siswa seluruhnya memiliki budaya belajar (learning Socity), sehingga mereka selalu menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

3.   Siswa mempunyai kesadaran tinggi bahwa sekolah adalah lingkungan belajar, sehingga mereka  senantiasa   dapat  memanfaat  berbagai  sumber  belajar  yang  tersedia  di sekolah

4.   Terpenuhinya  kelengkapan  Tenaga   Edukatif  dan  Tenaga  Kependidikan  lainnya  yang  berkualifikasi standar,  sehingga dapat  memberikan Pelayanan Masyarakat  yang  Bermakna.   

5.   Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, sehingga dapat terselenggara  kegiatan Pembelajaran/ Pembimbingan   yang  bermutu.

6.   Adanya pendidikan keterampilan khusus bagi siswa yang tidak melanjutkan ke Pendidikan Tinggi,  sehingga  mereka memiliki Life Skill untuk mengembangkan kehidupan di pasca SMA.

Sebagai  langkah  awal  dalam  pengembangan  tersebut,  maka  perlu  disusun  Perencanaan  yang  komprehenship  dengan  menghimpun segenap  aspirasi  yang  berkembang  dikalangan warga  sekolah  ( Bottum Up )  dan  aspirasi  stake holders,   yang   disesuaikan  dengan  kebutuhan  dan  kemampuan  Sekolah.  Perencanaan   tersebut  disusun  secara  prioritas  dalam  bentuk  Program  Jangka  Menengah  (PJM),  sebagai  arah  Pengembangan  Sekolah  untuk  masa   mendatang.